Kamis, 05 Mei 2011

keterampilan konselor

BAB I
PENDAHULUAN
Konseling merupakan pekerjaan professional seperti hal nya guru. Sebagai suatu pekerjaan professional menuntut dimilikinya sejumlah kompetensi dan keterampilan tertentu. Selain itu, konseling juga merupakan suatu proses. Dalam setiap tahapan proses konseling memerlukan penerapan keterampilan-keterampilan tertentu. Agar proses konseling dapat berjalan secara lancar dan tujuannya tercapai secara efektif dan efisien, konselor harus mampu mengimplementasikan keterampilan - keterampilan tertentu yang relevan.
Konselor yang terampil adalah yang mengetahui dan memahami sejumlah keterampilan tertentu dan mampu mengimplementasikan dalam proses konseling.
Secara umum proses konseling terbagi atas tiga tahap yaitu: pertama, tahap awal (tahap identifikasi masalah). Kedua, tahap pertengahan (tahap kerja dengan masalah tertentu). Ketiga, tahap akhir (action). Berikut akan dijelaskan keterampilan dalam masing-masing tahapan konseling.



















BAB II
KETERAMPILAN KONSELING
A. Tahap Awal
Tahap awal konseling disebut dengan tahap identifikasi masalah. Dalam tahap ini ada sejumlah keterampilan yang bisa diterapkan oleh konselor yaitu:
1. Keterampilan Attending (Attending Skills)
Keterampilan attending adalah perilaku konselor menghampiri klien yang diwujudkan dalam bentuk kontak mata dengan klien, bahasa tubuh dan bahasa lisan. Keterampilan attending juga mencerminkan bagaimana konselor menghampiri klien yang diwujudkan dalam perilaku di atas. Proses konseling menuntut keterlibatan atau pertisipasi dari klien. Oleh karena itu, kemampuan attending konselor, akan memudahkannya untuk membuat klien terlibat pembicaraan dan terbuka.
Contoh :
Klien : (Menceritakan masalahnya) saya ini sekarang malas belajar, karena sukar berkonsentrasi. Biasanya kalau belajar saya memaksakan diri, tapi tidak ada. Baru sebentar lagi saya mau ujian. Oleh karena itu, saya datang kesini mohon bantuan dari bapak.
Konselor : (Dengan tenang konselor menjawab)ya, saya akan membantu saudara. Kira-kira apa yang menyebabkan masalah saudara?
2. Keterampilan Mendengarkan
Keterampilan mendengarkan adalah kemampuan pembimbing atau konselor menyimak atau memperhatikan penuturan klien selama proses konseling berlangsung. Pembimbing atau konselor harus bisa jadi pendengar yang baik selama sesi konseling berlangsung Tanpa keterampilan ini, pembimbing atau konselor tidak akan dapat menangkap pesan pembicaraan.
Contoh :
Klien : Ayah saya adalah sumber kekuatan satu-satunya dalam rumah tangga, beliau pernah menjadi pejabat tinggi pemerintah dan kami begutu bangga padanya, kami tinggal dirumah besar punya mobil dan lain-lain. Sampai-sampai sekolahpun diantar sopir dengan mobil. Sekarang kondisi dan situasi sudah berubah, ayah pun telah pensiun dan jadi pemurung, beliau enggan menerima tamu dan lebih senang menyendiri. Untunglah ibu punya gagasan untuk berwiraswasta bengan memelihara ayam potong sehingga bisa membantu memikul beban keluarga. Ah . . . . saya fikirterlalu jujur . . . . oh . . . .maaf saya banyak melantur.
Konselor : Ah tidak apa-apa, saya senang saudara mau menceritakan hal tersebut pada saya, coba teruskan.
3. Keterampilan Berempati
Empati adalah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirsakan klien , merasa dan berpikir bersam klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati diwali dengan simpati, yaitu kemampuan konselor memahami perasaan, pikiran, keinginan dan pengalaman klien.
4. Keterampilan Refleksi
Keterampilan Refleksi adalah keterampilan pembimbing atau konselor untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman klien.
Contoh :
Klien :Saya tahu jika ayah memendam kemarahanya, saya juga sedih karena hal itu. Inilah sebabnya saya datang berkonsultasi. Saya ingin supaya bisa kembali semangat belajar, terutama belajar kelompok bersama teman-teman. Saya sungguh ingin berhasil agar dapat membahagiakan ayah saya dan juga ibu yang sudah bersusah payah membantu mencari tambahan penghasilan untuk membiayai anak-anaknya setelah ayah pensiun.
Konselor :Saya senang sekali mendengar kemauan saudara untuk maju
5. Keterampilan Ekplorasi
Istilah ekplorasi berarti penelusuran atau penggalian. Keterampilan ekplorasi adalah suatu keterampilan konselor untuk untuk menggali perasaan , pikiran dan pengalaman klien.
6. Keterampilan Bertanya
Adalah suatu kemampuan pembimbing atau konselor mengajukan pertanyaan- pertanyaan pada sesi konseling.
Contoh :
Klien :Kemudian bagaimana dengan orang tua saya yang di Bali?
Konselor :Maksud saudara?
Klien :bagaimana orang tua saya di Bali yang sedih, karena adik saya yang satu-satunya itu nakalnya bukan main, sukar diatur, rasanya saya kok kasihan sama beliau dan saya ingin membantunya
Konselor :Mengapa?
7. Keterampilan Menangkap Pesan Utama
Dalam sesi konseling sering klien mengemukakan perasaan, pikiran dan pengalamanya secara berbelit- belit. Oleh sebab itu, diperlukan kemampuan konselor menangkap pesan utama. Keterampilan ini bertujuan untuk mengatakan kembali esensi atau inti ungkapan klien.
8. Keterampilan Memberikan Dorongan Minimal
Adalah kemampuan konselor memberikan dorongan langsung dan singkat terhadap apa yang telah dikatakan oleh klien.
B. Tahap Pertengahan
1. Keterampilan Menyimpulkan Sementara
Adalah suatu kemampuan konselor bersama klien untuk menyampaikan kemajuan hasil pembicaraan, mempertajam atau memperjelas focus wawancara konseling.
2.Keterampilan Memimpin
Agar pembicaraan dalam wawancara konseling tidak menyimpang, konselor harus harus memimpin arah pembicaraan sehingga tujuan konseling dapat tercapai secara afektif dan efisien.
3. Keterampilan Memfokuskan
Seorang konselor yang efektif harus mempu membuat focus melalui perhatianya yang terseleksi terhadap pembicaraan terhadap klien. Kemampuan ini akan membantu klien memusatkan perhatiannya pada pokok pembicaraan.
4. Keterampilan Melakukan Konfrontasi
Konfrontasi merupakan suatu kemampuan konselor menantang klien untuk melihat adanya diskrepansi antara perkataan dengan bahasa badan atau perbuatan dan ide awal dengan ide berikutnya.
5. Keterampilan Menjernihkan
Keterampilan menjernihkan adalah kemapuan konselor menjernihkan atau memperjelas ucapan- ucapan klien yang samar- samar, kurang jelas dan agak meragukan.
Contoh :
Klien :Iya . . .yah. Jadi saya tidak di buang. Saya di pisahkan dengan keluarga saya dengan maksud baik, dan memang hidup sayapun tidak pernah kekurangan suatu apapun. Dan orangtua saya sendiri melepaskan saya demi persaudaraan dan orang tua kandung saya tidak mempunyai maksud jahat.
Konselor :Maksud saudara?
Klien :Begini, ternyata saya mendapatkan kesempatan untuk belajar diperguruan tinggi sedangkan ke-4 kakak saya hanya satu yang sempat melanjutkan pendidikan di akademi. Ya, jadi nasib saya lebih baik.
7. Keterampilan Memudahkan
Memudahkan adalah suatu keterampilan membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran dan pengalamannya secara bebas sehingga komunikasi dan partisipasi meningkat serta proses konseling berlangsung secara efektif.
8. Keterampilan Mengarahkan
Direccting adalah kemampuan konselor mengajak dan mengarahkan klien untuk berpatisipasi secara penuh dalam proses konseling.
9. Keterampilan Sailing
Dalam proses konseling, diam atau tidak bersuara bisa menjadi teknik konseling. Oleh sebab itu , konselor harus dapat memanfaatkan situasi.
11. Keterampilan Mengambil Inisiatif
Mengambil inisiatif perlu dilakukan oleh konselor apabila klien kurang bersemangat untuk berbicara,sering diam dan kurang pertisipatif, keterampilan ini ini diterapkan apabila akan mengambil inisiatif jika klien tampak kurang bersemangat.
12. Keterampilan Memberi Nasihat
Nasihat bisa diberikan kepada klien apabila ia meminta, Meskipun demikian pemberian nasihat tatap perlu harus pertimbangkan.
Contoh :
Konselor :Ditempat yang baru itu pun anda dituntut
13. Keterampilan Memberi Informasi
Informasi diberikan oleh konselor kepada klien harus hal-hal yang diketahui konselor. Apabila konselor tidak mengetahui informasi apa yang dikehendaki klien, klien secara jujur harus mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui informasi dan sebaliknya.
14. Keterampilan Menafsirkan atau Interpretasi
Merupakan upaya konselor mengulas pikiran, perasaan, dan pengalaman klien dengan merujuk kepada teori-teori.
C. Tahap Akhir
1. Keterampilan Menyimpulkan
Merupakan kemampuan konselor mengambil inti pokok pembicaraan selama selama proses konseling berlangsung.
2. Keterampilan Merencanakan
Menjelang sesi akhir wawncara konseling, konselor harus dapat membantu klien untuk dapat membuat rencana berupa suetu program untuk action, yaitu rencana perbuatan nyata yang produktif bagi kemajuan klien.
3. Keterampilan Menilai
Berarti kemampuan konselor menetapakan batas- batas atau ukuran-ukuran keberhasilan proses konseling yang telah dilaksanakan.
4. Keterampilan Mengakhiri Konseling
Konselor dituntut untuk dapat menutup proses konseling dengan mengatakan bahwa proses konseling telah cukup dilaksanakan pada hari ini dan bertanya kepada klien kapan dapat dilanjutkan kembali proses konselingnya.



BAB III
PENUTUP

Untuk dapat menjadi seorang konselor yang profesional, hendaknya dapat menguasai keterampilan-keterampilan konselingyang telah di uraikan diatas. Adapun tujuan penguasaan keterampilan konseling adalah agar proses konseling yang dilakukan dapat berjalan lancar, dan apabila terjadi kendala di tengah proses konseling, konselor dapat mengetahui hal apa yang dapat dilakukan.





















DAFTAR BACAAN

http://www.p4tkpenjasbk.or.id/new/index.php?option=com_content&view=article&id=112%3A-5-jenis-keterampilan-dasar-konseling&catid=52%3Aartikel&Itemid=119
http://adji-anginkilat.blogspot.com/2010/03/keterampilan-konselor.html
http://charles-mc.blogspot.com/2011/01/keterampilan-seorang-konselor-dalam.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar